Pages

Kamis, 12 Februari 2015

The Coffee Memory

Covernya Cakep

Hari minggu beberapa waktu yang lalu saya dikagetkan oleh sebuah berita duka dari kampung halaman saya. Puteri bungsu ulama besar dari kampung saya meninggal dunia karena sakit. Usianya masih sangat muda, masih 16 tahun. Saya malahan masih ingat saat abah saya diundang ke acara tasmiyah (memberi nama) almarhumah. Saat abah pulang dari sana, saya bertanya, dikasih nama siapa oleh Guru (Ulama atau Ustadz di kampung saya biasanya dipanggil Guru) putri bungsu beliau? Kalau kata-kata orangtua di kampung saya, umur kada babau. Artinya kematian itu memang misteri, bisa datang begitu saja dan tiba-tiba.

Kematian yang tiba-tiba akan membuat orang disekitarnya yang ditinggalkan berduka. Saya aja rasanya larut dalam kesedihan sepanjang hari minggu kemarin, padahal saya hanya mengenal almarhumah sekadarnya saja. Apalagi orang-orang terdekat, seperti orangtua, kakak-kakaknya, keponakannya, juga orang-orang yang akrab dengannya. Seperti kesedihan yang dirasakan Dania saat kehilangan Andro pada cerita di novel The Coffee Memory karya Riawani Elyta.


Kepergian Andro membuat Dania seperti kehilangan semangat hidup. Semasa hidupnya Andro punya sebuah café yang bernama Katjoe Manis dan Dania pun lantas menginstruksikan semua karyawan untuk libur sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kebiasaannya tidur lagi saat pagi tiba. Malah hal itu sempat dikritik putranya, Sultan. “Tadi Oma bilang bahwa tidur pagi itu enggak bagus. Kata Oma, jauh rezeki. Buktinya, sekarang yang kasih Sultan jajan bukan Mama lagi, tapi Oma.” Iiih… Sultan pinter banget. Kata-katanya jleeeb!

Dania pun mencoba bangkit, kembali mengurus Katjoe Manis yang ditinggalkan suaminya. Bukan pekerjaan mudah, karena sebelumnya Dania hanya ikut mengurus sekadarnya. Apalagi Katjoe Manis kehilangan barista utamanya yaitu Andro dan 2 karyawan lain yang resign. Otomatis Dania memerlukan karyawan baru. Dari hasil seleksi diterimalah seseorang bernama Barry.

Masalah pun silih berganti muncul menerpa Katjoe Manis. Seperti munculnya Redi, abang iparnya Dania yang mengusulkan agar Katjoe Manis dijual padanya. Juga adanya café sejenis yang muncul di dekat Katjoe Manis berada. Café itu malah ternyata dipunyai oleh seseorang bernama Pram, teman masa lalu Dania yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Dania. Masalah lain lagi adalah cafenya Pram ternyata membujuk salah satu karyawan Katjoe Manis untuk bergabung di sana. Hari demi hari, pelanggan Katjoe Manis pun semakin berkurang.

***

 Membaca The Coffee Memory membuat saya rasanya ingin duduk di sebuah café dengan aroma kopi yang menyebar di seantero ruangan. Menikmati kopi yang tersaji di depan saya dalam suasana yang nyaman. Sesuai judulnya buku ini pun kental dengan urusan perkopian. Juga ada beragam tips dan informasi tentang kopi juga coffee shop. Tips dan informasi selain dalam cerita juga tersaji dalam sebuah kotak kata sebagai pembuka bab.

Novel ini juga memancing diskusi saya dan suami lagi tentang etis atau tidak etisnya jika seorang karyawan berpindah kerja kepada saingan dari tempat dia bekerja sebelumnya dengan tawaran gaji yang lebih tinggi. Hemm… Gaji yang lebih tinggi ditawarkan juga karena pengamalan kerja si karyawan yang didapatkannya dari tempat dia bekerja terlebih dahulu. Etis enggak sih?

Satu hal yang saya harapkan ketika mulai membaca novel ini adalah tidak munculnya kata visual. Hahaha…. Dan harapan saya tidak terkabul. Kata visual tetap muncul dalam karya penulis yang satu ini. Jujur, dalam novel sebelumnya yang saya baca, saya terganggu dengan penggunaan kata visual. Untunglah di novel ini hanya sedikit visual itu muncul. Itu pun ada di bagian akhir saat saya sudah sangat menikmati ceritanya.

Unsur romance-nya terasa kurang tapi cukup mempermanis jalan cerita. Apalagi endingnya. Bikin pipi saya menghangat saat membacanya. Heran juga padahal tidak ada kontak fisik antara kedua tokohnya tapi berasa romantisnya. Ini yang saya sukai dari cerita yang ditulis penulisnya. saya suka dengan tipe orang mencintai seperti yang dituturkan Ratih 'jatuh cinta nggak hanya membuat orang jadi banyak melamun dan tersenyum-senyum sendirian, tetapi juga bisa mendorong hal-hal yang positif' seperti yang dilakukan Barry pada Dania di novel ini.

Trus… Waktu itu abangnya Andro si Redi muncul, saya mengendus kalau konflik akan dibuat oleh si Redi. Saya sampai nyelutuk kalau saya tidak suka sama orang jahat. Tapi ternyata si Redi tidak terlalu membuat konflik dalam alunan ceritanya.  Di satu sisi saya senang karena saya enggak suka orang jahat, di sisi lain itu juga bikin konflik cerita jadi kurang dalam. *pembaca labil* :D

Dan saya berharap kalau novel ini akan ada sekuelnya, karena masih banyak cerita di dalamnya yang bisa dikembangkan termasuk hubungan antara Dania dan Barry. Oya, tentang tulisan Katjoe Manis saya skip buat ikut komentar ya. Udah banyak yang ngomentarin tentang kekeliruan penulisan Katjoe Manis :D

Judul : The Coffee Memory
Penulis : Riawani Elyta

Penerbit :  Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-7888-20-3
Tahun Terbit : Maret, 2013
Tebal Buku : 226 halaman

4 komentar:

  1. jadi penasaran sama bukunya Mba. Keren sepertinya ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Dani. Bisa belajar tentang bisnis cafe :D

      Hapus
  2. makasih YAnti untuk reviewnya :) saya juga masih mencari2 ketepatan penggunaan visual. dalam thesaurus Inggris, visual bisa berupa kata sifat dan kata benda. saat berfungsi sbg kata benda, derivatnya termasuklah mata, optik, dsb. Saya menerima semua kritik ttg penggunaan 'visual', tp, yang mengherankan saya, 3 novel sy di 3 penerbit berbeda, penggunaan visual gak pernah dipangkas editor2nya, hehe, nurut hemat saya sih, kalo memang gak tepat, harusnya dipangkas, jadi saya juga gak keterusan salah, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Iya, Mbak Lyta. Visual ada di Yasmine yang terbitan Indiva, Coffee Memory ini yang terbitan Bentang dan AMOT yang terbitan GPU ya. Jadi lolos dri editan editor yang berbeda. Mungkin karena tidak biasa jadi merasa rada janggal ya mbak :D

      Hapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin