Pages

Sabtu, 21 Maret 2015

Perjuangan Seorang Remaja Mengatasi Trauma



Bagi seorang remaja memiliki impian adalah hal yang bisa membuatnya hidup terarah. Sejak dini remaja yang memiliki impian akan menyusun langkah-langkah dan berjuang untuk meraih impian tersebut. Seperti Kaliluna, seorang gadis berusia 17 tahun yang tertarik dengan dunia panahan. Dia bertekad untuk bisa masuk seleksi SEA Games dalam cabang olahraga memanah.

Kaliluna meluangkan waktunya untuk berlatih lebih banyak dari biasanya. Saat teman-temannya sudah pulang dia tetap berada di tempat latihan untuk berlatih. Namun, hal itu ternyata menjadi petaka padanya. Saat berada di ruangan loker, seseorang yang menjadi petugas kebersihan baru di tempat latihan menghancurkan mimpinya. Kaliluna mengalami sebuah tragedi yang membuat semua impiannya hancur dan dia ingin lari dari semua yang terjadi.


Salamanca adalah pilihan tempat untuk Kaliluna pergi. Di sana ada ibu kandungnya yang meninggalkan selama 17 tahun. Satu kenyataan yang baru diketahui Kaliluna saat ia remaja. Saat itu ia melihat video dirinya ketika masih bayi. Dalam video tersebut dia disusui oleh wanita lain yang tidak dia kenal. Mama Nadia yang selama ini dikenal dan dianggapnya sebagai mamanya pun menjelaskan kalau Kaliluna bukan anak kandungnya. (Halaman 61)

Kaliluna pun pergi ke Salamanca bukan untuk membina hubungan baik dengan ibunya tapi karena dia ingin melarikan diri dari perasaan sakit dan trauma akan tragedi yang dia alami. Saat ibu kandungnya ingin menghibur dan bersama Kaliluna, Kaliluna menghindar dan berkata “Aku kemari sebab kamu orang asing buatku. Berhentilah untuk peduli padaku. Berhentilah bersikap seperti seorang ibu. Tetaplah jadi asing karena itu membuatku lebih baik.” (Halaman 84)

Ada seorang pemuda yang tertarik pada Kaliluna di Salamanca. Ibai, nama pemuda tersebut. Ibai adalah seorang pemuda yang punya setumpuk masalah. Dia sedang berusaha mempertahankan toko buku yang menjadi usaha dirinya untuk tidak dijual. Padahal orang-orang di sekitarnya membujuk dirinya untuk menjual toko buku tersebut agar Ibai bisa melanjutkan kuliah. Ibai berhenti melanjutkan pendidikannya karena dia ingin menjaga ibunya yang sakit selepas ayahnya meninggal.

Tak sengaja Ibai mendengar pembicaraan pamannya dengan ibu Kaliluna tentang tragedi yang dialami Kaliluna. Hal yang membuat Ibai marah akan kejadian tersebut tapi juga bersemangat untuk membantu Kaliluna bebas dari trauma itu. Walau awalnya Kaliluna menolak kehadiran Ibai, tapi Ibai tak pernah menyerah.

Perlahan Kaliluna pun membuka pintu persahabatan dengan Ibai. Ibai yang mengetahui kalau Kaliluna dulu adalah seorang atlet panahan membawa Kaliluna ke lapangan panahan. Ketakutan Kaliluna pada panah harus dilepaskan. Ibai berkata pada Kaliluna, “Aku hanya ingin kamu menghadapi ketakutanmu. Hanya kamu yang tahu kapan ketakutan itu akan muncul. Kamu harus kembali ke titik itu dan melawannya.” (Halaman 190)

Selama ini Kaliluna merasa ketakutan dengan panah dan busur yang dulu sangat dia akrabi. Ketakutan Kaliluna seperti ular hitam dengan taring yang menyeramkan. Ibai membantu Kaliluna menghadapi ketakutan itu dan meyakinkan Kaliluna bahwa ular tersebut hanya bayangan dari ketakutan Kaliluna. “Ular itu tidak nyata. Aku tidak bisa menyingkirkannya sebab hanya kamu yang bisa. Dia ketakutanmu. Dia tidak ingin kamu bangkit. Jangan menyerah, kumohon jangan menyerah,” kata Ibai kepada Kaliluna.(Halaman 201)
Tentu tidak mudah bagi seorang remaja puteri berusia 17 tahun mengalami tragedi seperti yang dialami Kaliluna. Novel ini menyajikan perjuangan Kaliluna yang dibantu oleh Ibai dalam mengatasi ketakutan-ketakutannya untuk memandang masa depan dengan semangat. Pada awal perjuangannya, Kaliluna masih meragu akan keputusannya untuk melawan ketakutannya itu. Ibai pun terus meyakinkan Kaliluna dengan berkata, “Memulai sesuatu itu memang berat. Percayalah setelah kamu memulai sesuatu kamu akan sadar bahwa ini tidak seberat yang kamu bayangkan. (Halaman 196)

Mengambil latar tempat yang tidak biasa yaitu Salamanca di Spanyol membuat pembaca bisa mendapatkan informasi baru tentang tempat tersebut dengan membaca buku ini. Begitu juga dengan kesenangan Kaliluna pada panahan, yang membuat pembaca juga bisa mengenal dunia panahan. Bab pada novel ini pun diberikan judul sesuai dengan tahapan dalam memanah yaitu Standing, Nocking, Drawing, Holding, dan Loosing.

***
Data Buku :
Judul               : Kaliluna, Luka di Salamanca
Penulis             : Ruwi Meita
Penyunting      : Dyah Utami
Penerbit           : Moka Media
Tebal Buku      : 270 + iv Halaman
ISBN               : 979-795-854-X

Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, 2014

*Resensi ini dimuat di Tribun Kaltim 15 Maret 2015*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

LinkWithin