Pages

Selasa, 23 Desember 2014

Mengajarkan Empati kepada Anak-anak Lewat Cerita



Waktu awal ingin belajar menulis cerita anak, saya pernah direkomendasikan untuk membaca Dongeng 7 Menit karya Clara Ng. Katanya buku itu bagus buat belajar menulis cerita anak. Jangan tawarkan hal seperti itu kepada saya, karena bahaya. Saya jelas akan tertarik. Muehehe....

Seingat saya harga yang ditawarkan untuk buku itu lumayan mahal. Saya sudah memesannya di salah satu teman yang jualan. Tapiiii.... Ternyata stoknya kosong dan sampai saat ini saya belum mendapatkannya. 

Beberapa hari yang lalu saat Mbak Eni Martini memajang buku yang beliau jual, dan itu karya Clara Ng saya jadi tertarik untuk memilikinya. Apalagi saat membaca sinopsisnya yang salah satu ceritanya adalah tentang perceraian orang tua. Saya sungguh tertarik. Dari dulu saya selalu ingin mengemas cerita tentang perceraian itu dalam sebuah cerita anak. Entah kenapa keinginan itu ada, mungkin juga disebabkan karena saya pernah beberapa kali melihat begitu terlukanya seorang anak saat orangtua mereka bercerai. Sampai saat ini pun saya masih mengambil kesimpulan dalam perpisahan kedua orangtua maka yang paling terluka adalah anak-anak mereka.


Saya sempat menulis cerpen anak tentang hal itu dan gagal. Hahaha.... Kesimpulan yang saya ambil dari komentar beberapa orang yang telah membacanya. Jadilah saya sangat penasaran dengan cerita yang ada di buku yang berjudul Bagai Bumi Berhenti Berputar karya Clara Ng.

Ada 5 cerita yang terdapat di dalam buku tersebut. Cerita pertama berjudul Pohon Harapan yang bercerita tentang seorang kakak yang adiknya sakit kanker. Perhatian ayah dan ibu si anak tertuju kepada si adik. Si kakak sedih, tapi sedih karena adiknya sakit bukan karena perhatian kedua orangtuanya tercurah pada adiknya. 

Cerita kedua berjudul Seribu Sahabat Selamanya yang bercerita tentang seorang anak yang sedih karena harus pindah ke luar negeri. Dia sedih akan meninggalkan rumah, teman-teman dan guru yang dia sayangi. Membaca cerita ini saya juga ikut merasa sedih. Saya termasuk orang yang tak bisa lepas dari kenangan, bahkan ketika meninggalkan sebuah hotel di mana saya menginap selama 11 hari sudah bikin saya sedih. Hehehe....

Cerita ketiga berjudul Kerlip Bintang di Langit. Ini tentang seorang anak yang ditinggalkan ibunya. Ibunya wafat. Si anak pun sedih dan hari-harinya menjadi tak biasa lagi. Dia merindukan ibunya, ibu yang tak bisa dia temui lagi hari ini, esok dan selamanya. 

Sedangkan cerita keempat bercerita tentang anak yang harus menghadapi perceraian orangtuanya. Cerita ini berjudul Jangan Lupa Aku Mencintaimu. Beragam pertanyaan timbul dari benak si anak tentang perpisahan orang tuannya. Mengapa hal itu terjadi? Apa karena kesalahan si anak sehingga orangtuanya selalu ribut? 

Yang Paling Istimewa adalah cerita yang kelima. Bercerita tentang seorang adik yang mempunyai seorang kakak yang cacat (Di buku menggunakan kata cacat). Suatu hari Nico, nama anak tersebut merasa malu ketika ditanya temannya tentang kondisi kakaknya. Ibunya pun menjelaskan kepada Nico tentang bagaimana harusnya menghadapi teman-teman yang penasaran terhadap kondisi kakaknya. Menjelaskan kalau anak-anak yang berkebutuhan khusus mereka juga anak yang memiliki perasaan juga istimewa. Yang punya kelebihan di beberapa sisi, walau juga ada kekurangan di sisi yang lain. Mereka pun masih bisa berprestasi. 

Disajikan dengan kertas yang bagus, hard cover dan ilustrasi yang cakep memang membuat buku ini menarik. Seperti judulnya buku ini memang mengajarkan empati kepada anak-anak tentang beragam hal. Buku yang cocok dibaca oleh anak-anak dengan didampingi orang dewasa sembari menjelaskan beberapa hal terkait di dalamnya.

Saya memberikan 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Sebenarnya pengin 5 bintang. Hanya saja beberapa penyelesaian di dalamnya masih saya ragukan apakan cocok dijadikan penjelasan kepada anak-anak muslim. Seperti mengatakan tentang kepercayaan suku primitif di mana orang yang meninggal mengintip ke bawah, mewujud menjadi bintang. 

Bakti seorang anak memang tidak terputus ketika orangtuanya meninggal. Seorang anak masih bisa mendoakan mereka dan itu akan menjadi amal jariah buat orangtuanya. Dibandingkan menyorot bintang, saya lebih senang jika anak diajarkan berdoa. 

Judul : Bagai Bumi Berhenti Berputar
Penulis : Clara Ng
Ilustrasi : Emte
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012

1 komentar:

  1. Wah, bukunya bagus ya. Sudah penasaran sebenernya sejak lama. Tapi setuju ya, penyelesaiannya agak kurang sreg.

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin