Pages

Selasa, 13 Mei 2014

That Summer Breeze



Perlu 3 orang buat menemukan buku ini di Gramedia. Saya, suami dan satu karyawan Gramedia Balikpapan. Saya ngebet pengin beli buku ini karena 2 alasan. Alasan pertama, Ini adalah karya Orizuka. Saya memang lagi penasaran dengan karya penulis yang satu ini. Dan hanya bermodal katanya-katanya tanpa pernah membaca satu pun karyanya, saya langsung membeli 3 buku Orizuka. Sebuah pertaruhan besar yang tidak pernah saya lakukan terhadap penulis lain. 

Alasan kedua karena harganya lumayan miring. 39 ribu sekian ditambah diskon 20% pulak. Makanya saya berputar-putar, berjongkok, berdiri di deretan novel demi mendapatkan buku ini. Memanggil karyawan Gramedia juga buat membantu saya karena sewaktu dicek di komputer masih ada stok 9 buku. Setelah 3 orang itu nyaris menyerah, Mas-mas karyawan Gramedia itu akhirnya menarik temannya buat membantu mencari apa yang saya mau. Yang ternyata langsung dijawab temannya, buku ini ada di rak depan dekat kasir. Gubrak! Coba nanya karyawan satu itu dari tadi. Tapi, kalau nggak gitu ga berasa dunk perjuangan mencarinya

Akhirnya buku ini saya dapatkan juga dengan harga 31 ribu sekian. Lumayan murah deh dibanding novel-novel dengan ukuran sejenis.

Dan hari ini saya menyelesaikan novel ini dengan berlinangan airmata. Huhuhu.... Sediiiih T_T. Saya penyuka happy ending, lho. Tapi, saya menghargai pilihan penulis buat menghadirkan ending seperti ini.

Ares dan Orion adalah saudara kembar. Mereka mirip secara fisik, tapi sangat berbeda dalam sifat dan kelakuan mereka. Orion cerdas dan jago basket, sementara Ares adalah tipe cowok ugal-ugalan gitu. Suka main music yang menghentak dan membangkang pada orang tua. Mereka berdua punya sahabat masa kecil bernama Reina. Tapi, setelah Reina pindah ke Amerika, mereka berdua tidak tahu lagi kabar gadis kecil itu. Padahal, 10 tahun yang lalu mereka berjanji untuk membuka surat permohonan yang mereka tanam di bawah sebuah pohon.

Ares menganggap Reina mengkhianati janji, sementara Orion terus mengharapkan kembali kehadiran gadis itu. Hingga pada satu ketika Orion berhasil berhubungan lagi dengan Reina. Reina juga berjanji untuk memenuhi janjinya datang ke Indonesia. Orion senang, tapi Ares justru menampakkan wajah tak bersahabat saat bertemu dengan Reina. Reina harus berjuang keras agar Ares mau memperhatikannya. 

Surat permohonan yang mereka kubur di bawah sebuah pohon juga akhirnya mereka buka. Dan surat permohonan itu ternyata menjawab semua misteri tentang latar belakang kehidupan mereka. Apakah ituuuuu?

Awal membaca saya menaruh simpati habis-habisan terhadap Ares. Seorang anak 'terbuang' yang tidak dianggap ada oleh orangtuanya. Tapi setelah membaca lembar demi lembar simpati saya pun akhirnya merata pada semua pihak. Saya bersimpati pada ayah yang beberapa kali diceritakan membabakbelurkan anaknya sendiri. Pada ibu dengan kemenyerahan akan keterlambatannya memberikan perhatian pada Ares. Mencelos rasanya saat Orion bertanya pada Ibu. "Kenapa sih Ibu cuma manjain aku? Kenapa ke Ares nggak pernah?" Dan ibu menjawab. "Udah terlambat, Ri. Ares udah terlalu marah sama Ibu. Ibu nggak bisa berbuat apa-apa lagi sama dia."

Simpati juga tentu saya berikan kepada Orion. Si anak sempurna yang selalu dinomorsatukan tapi justru penomorsatuan itu membuat hidupnya terbebani. Terlebih ketika gadis-gadis yang dia sayang justru mendambakan perhatian Ares. Bahkan, saya juga bersimpati pada Raul yang menghajar Ares habis-habisan. Raul melakukan itu karena dia tertekan di bawah bayang-bayang ayahnya yang menginginkan dia menjadi bintang basket seperti sang ayah.

Orizuka menuliskan sebuah kisah yang tokohnya tidak hitam berlumur lumpur hitam, bukan juga putih yang tiada ternoda. Justru, dari perpaduan hitam dan putih itulah kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah ini. 

"Selalu nyalahin semua orang, tanpa pernah berpikir kalau setengahnya atau lebih adalah kesalahanku juga." (Hal 169) heuu... Itu kalimat Ares yang rasanya makjleb banget. Benar kan ya kalau terkadang kita menyalahkan orang lain, padahal kita juga ikut andil dalam kesalahan yang orang lain lakukan. 

Itu lah yang coba dijabarkan oleh Orizuka satu per satu. Keliaran Ares tak murni karena diabaikan begitu saja oleh keluarganya, tapi itu juga karena Ares tidak bisa jujur dan terbuka. Ayah dan ibu yang kecewa pada Ares juga tidak pernah menyelidiki kenapa Ares tidak pernah berhasil membaca satu buku. Hingga penyesalan itu terletak di akhir, mereka baru menyadari ketidakmampuan Ares bukan karena Ares bodoh atau tidak peduli tapi karena disleksia.

Data Buku
Judul                                 :  That Summer Breeze
Penulis                              :  Orizuka
Penyunting                        :  Ria Dahlianti
Penerbit                            :  Puspa Populer
Tebal Buku                       :  iv + 236 Halaman
Tahun Terbit                     :  Cetakan I, 2013
ISBN                                :  9786028290920


3 komentar:

  1. Jadi gegara baca2 status mbak dhani, pulang nanti saya berencana mau borong buku2nya Orizuka, muahahaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Idem, Kaka. Ini saya beli lagi 3 buku Orizuka :D

      Hapus
  2. baru baca cuap-cuap penulis dan prolog.

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin