Pages

Minggu, 04 Mei 2014

Perjalanan Hidup 4 Wanita dalam Teatrikal Hati



Teatrikal Hati bercerita tentang banyak tokoh yang diceritakan dengan sudut pandang orang pertama. Ada 4 tokoh wanita yang menjadi pusat cerita dengan porsi penceritaan hampir merata karena 4 wanita itu juga terkait satu dan yang lainnya.



Wanita pertama bernama Zahra Azkia. Seorang mantan artis yang memutuskan untuk berhijab dan kemudian mengambil peran di belakang layar sebagai sutradara kemudian menjadi produser. Mendapat tugas dari perusaan tempat dia bernaung Tropical Entertainment (TE) untuk menggarap suatu film layar lebar bertema kemanusiaan dan cinta. Zahra Azkia dari masa kuliah sampai bekerja dia tak pernah lepas dari olok-olok orang di sekitarnya yang menjodohkan dia dengan Fardan, seorang sutradara berbakat yang menyutradai film di mana Zahra yang menjadi produser film tersebut.

Wanita kedua bernama Linda Arum, wanita yang mendambakan sebuah rumah tangga yang romantis tapi apa daya dia menikah dengan seorang dokter yang kikuk. Rumah tangga yang mereka bangun tidak hanya senyap tanpa celoteh anak-anak tapi juga dingin dan kikuk dalam komunikasi keduanya. Walaupun dalam bayangan setiap orang mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Impian untuk mendapati kehidupan rumah tangga yang romantis hanya dituangkan Linda Arum dalam karya fiksinya. 

Gwen Saputri adalah wanita ketiga. Nama Gwen yang memang tidak terlalu familiar di kalangan pribumi karena dia punya darah Belanda dari neneknya. Faktor keturunan indo eropa itulah yang membuat Gwen menjadi tampil menonjol dengan kecantikannya. Gwen kemudian menjadi arsitek dengan karier yang cemerlang tapi kariernya yang cemerlang tidak sejalan dengan kisah cintanya. Di usianya yang lebih 30, Gwen selalu menolak setiap pria yang hadir di hidupnya karena trauma akan kehidupan pernikahan orang-orang di sekelilingnya. Ibu, juga kakaknya. Kehidupan pernikahan teman baiknya yang bahagia juga tak kunjung meluluhkan hati Gwen buat menikah. 

Wanita terakhir adalah Setyani. Wanita sederhana dari desa yang kemudian menikah dengan pria kaya Harjun Notodiningrat. Pria yang menawan hatinya tapi tak kunjung bisa membuat dia bahagia. Harjun selalu bermain dengan wanita lain dan begitu akrab dengan minuman yang memabukkan. Tapi, Setyani entah dirasuki apa tak bisa lepas dari Harjun walau lebam di tubuhnya dan perih di hatinya selalu mengiringi setiap langkah dalam pernikahannya. Ketika kesempatan untuk berpisah dengan Harjun tiba, Setyani memilih bersetia. Hingga permintaan maaf mertuanya pada Setyani dan orangtuanya kemudian mewujud pada segala harta yang harusnya diimiliki Harjun, dipindahtangankan menjadi milik Setyani dan kedua putrinya secara hukum. Hal yang justru membuat Harjun semakin murka dan kelakukan negatifnya terus menjadi-jadi. 

Empat wanita yang jika orang awam melihat di luaran saja mereka hidup layak dan berbahagia. Jika hanya melihat dari harta dan status social keempatnya. Tapi, kebahagiaan tak selamanya hanya berada pada harta dan status. Empat wanita itu tertatih memperjuangkan kebahagiaan mereka masing-masing, di tengah ujian hidup yang bukan berupa kepapaan.

Cerita dari empat wanita bersama orang-orang di sekitarnya itulah yang menjadi cerita dalam novel setebal 342 halaman ini. Diceritakan bergantian dengan sudut pandang orang pertama membuat pembacanya lebih mudah masuk ke dalam cerita. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Saya merasa ikut kebingungan dengan mimpi yang terus berulang yang dialami Gwen, juga merasa deg-degan tentang sebuah perasaan milik Zahra untuk Fardan. Tak ketinggalan salut akan kesabaran dan kegigihan para tokoh memperjuangkan kebahagiaan hingga saya ikut meneteskan airmata ketika ending. 

Wonosalam adalah sebuah daerah yang tidak saya kenal sebelumnya dan ketika membaca Teatrikal Hati saya terpesona dengan keindahan Wonosalam yang digambarkan di novel ini. Wonosalam itu adalah nama tempat yang terasa enak disebut di lidah dan didengar di telinga. Salut kepada penulisnya yang mengangkat daerah ini menjadi setting cerita.

Empat wanita yang menjadi poros cerita dalam teatrikal hati diceritakan tidak sezaman. Tapi perbedaan zaman itu justru tidak saya rasakan sama sekali. Setting tahun 70an berasa tahun 2000an. Hal yang membuat saya bertanya-tanya apa tahun 70an sudah lazim digunakan testpack sebagai alat pendeteksi kehamilan? Atau sebutan kelas sosialita di awal 70an? Di awal tahun 80an sudah ada solusi bayi tabung untuk mereka yang kesulitan hamil? Dari hasil googling menyebutkan bayi tabung pertama yang berhasil di Indonesia tahun 1988. Dan di novel ini, si tokoh sudah mencoba bayi tabung di awal tahun 80an, tapi pengambilan usaha bayi tabung di luar negeri, tokohnya yang menyarankan bayi tabung itu seorang dokter dan ketidakberhasilan usaha ini menolong agar cerita tetap berdasarkan fakta. 

Namun, dibalik kritik yang saya sebutkan untuk novel ini, saya juga salut untuk novel perdana dari kedua penulisnya yang sudah layak diacungi jempol. Bagaimana menyajikan kisah hidup banyak tokoh dalam alur yang rapi dan memancing penasaran hingga ending. Benar seperti endors yang disebut mbak Shabrina WS, novel ini seperti kepingan-kepingan puzzle. Pelan-pelan menyatu lalu menjadi utuh. 

Judul : Teatrikal Hati
Penulis : Rantau Anggun & Binta Al Mamba
Penerbit : Quanta (PT. Elex Media Komputindo)
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 342 Halaman
ISBN : 9786020226279


4 komentar:

  1. kalao ke jombang yuk maen ke wonosalam ya yanti..
    makasiih reviewnya
    Tentang bayi tabung emang belum marak ya tahun jd kugambarin kerja kerasnya pak dokter bagas nyari info dr berbagai buku dan teman2nya sampai2 gak sempat dan gak berminat baca novel istrinya hehehe..
    tapi pokoknya makasih deh, kritiknya bs jd bikin aku hati2 kalau nulis lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungkem sama Mbak Binta. Maaf ya, Mbak, sok bener ngasih kritik :D

      Hapus
  2. Baru bisa online via leptop. Makasiih ya, Yanti :)

    BalasHapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin