Pages

Senin, 19 Mei 2014

Cerita Anak Loksado dalam LAMPAU



Rasanya baru pertama kali saya membaca novel terbitan Gagas Media yang unsur lokalitasnya kental banget. Saya juga nggak tau sih apa ini novel pertama dengan unsur lokalitas yang kental yang diterbitkan Gagas, soalna saya jarang memburu novel dengan unsur lokalitas yang kental. Saya lebih suka novel-novel yang bersetting kota metropolitan. Soalna saya kan udah tinggal di kampong, Cyin. Hahaha…. Jadi, bolehlah saya menengok kehidupan di kota besar lewat tulisan-tulisan :p :p :p

Tapi, novel Lampau ini memang beda. Karena bersetting di salah satu daerah di Kalimantan Selatan. Itu kampung saya, Bok. Walaupun setting yang diambil di novel itu belum pernah saya datangi, kecuali Kandangan dan Banjarbaru tentunya. Saya belum pernah ke Loksado. Jangankan Loksado, Tanuhi juga belum pernah :p


Setting novel ini ada di Loksado, mengambil tokoh utama orang yang berasal dari sana dengan dekapan adat yang begitu kental. Ayuh atau Sandayuhan ditakdirkan terlahir dari seorang Balian, seseorang yang dinilai sakti di Loksado sana. Mendengar Balian ingatan saya langsung melayang pada scene film 12 menit, pada ayahnya Lahang dan sederet pengobatan untuknya. Mungkin seperti itu ya Balian yang dimaksud di novel ini.

Tapi, Ayuh yang dalam darahnya juga mengalir darah ayahnya yang bukan warga Loksado, tidak serta merta meloloskan keinginan ibunya untuk menjadi Balian. Ayuh yang sedari kecil tertarik pada buku yang dipinjamkan Amang Dulalin menginginkan untuk bisa terbang dari Loksado. Menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Setelah tamat SD, Ayuh memohon izin pada ibunya untuk meneruskan sekolahnya. Ibunya menolak karena kekurangan biaya, tapi Ayuh tahu jalan keluar untuk masalahnya itu. Lewat Guru Agama Islam, dia tahu ada satu tempat yang bisa menampungnya secara gratis yaitu pondok pesantren. Namun, masalahnya Ayuh adalah penganut agama Kaharingan. Bagaimana bisa dia menimba ilmu di Pondok Pesantren. 

Ayuh yang kekeraskepalaannya menurun dari ibunya tetap keukeuh ingin melanjutkan sekolah. Maka, diantar Amang Dulalin dia pun ke pondok pesantren itu. Menempati sebuah ruangan di pojok pesantren, tempat di mana mereka yang mondok gratis ditempatkan. Di sana Ayuh satu kamar dengan Ariz dan Hendy. Ariz yang begitu sabar dan menjadi teman terbaik Ariz, dan Hendy yang pemberontak, anak orang kaya yang dimasukkan pesantren karena tidak naik kelas yang kerap berseteru dengan Ayuh. Puncaknya adalah saat Ayuh difitnah dan membuat dia memutuskan meninggalkan pesantren.

Ayuh pun kemudian berpetualang dari satu tempat ke tempat lain, sampai kemudian langkahnya berada di Jakarta. Merintis sebuah cita-cita yang dia idamkan sejak kecil. Cita-cita yang mengubah hidupnya.

Saya cukup bangga membaca novel ini karena mengangkat setting dari salah satu daerah di provinsi saya. Walau dalam dialog di novel ini nyaris tidak ada bahasa Banjarnya, tapi kelihatan banget kok kalau yang nulis urang Banjar. Soalna ada kata daun sup dan limau nipis. Hahaha… Banjar banget itu…

Loksado memang terkenal dengan sungainya yang deras dan bisa berarung jeram di sana (CMIIW ya). Di novel ini juga ada diceritakan tentang aktivitas menyusuri derasnya sungai amandit itu. Tadinya saya pikir kalau anak-anak Loksado sudah terbiasa berada di atas lanting untuk menyusuri sungai amandit itu semenjak mereka kecil. Tapi ternyata tidak ya, Ayuh dan teman-temannya baru pertama kali menyusuri sungai Amandit dengan lantingnya pada usia 13 tahun.

Ada bagian yang saya agak gimana gitu saat menceritakan tentang pesantren. Lewat cerita di dalam novel ini seperti pesantren itu cendrung memihak kepada mereka yang menjadi donator buat pesantren. Ya agak gimana aja baca bagian ini. Apalagi Ayuh memilih meninggalkan sebelum kasus tuntas. Jadi, belum terlihat nilai keadilan yang diusung pesantren. Saya memang bukan anak pesantren, tapi saya menghormati lembaga pendidikan itu. 

Kemudian, tulisan di cover belakang, tidak terlalu menampakkan cerita. Karena apa yang tersaji di bagian belakang hanya secuil dari isi cerita. Ceritanya sih lebih pada Perjuangan anak Loksado menerjang hidup dan meraih cita-cita. Sisi romantismenya sedikiiit sekali. 

Saat Ayuh di Jakarta, saya tertawa lepas ketika ada cerita untuk membuat orang gentar dengan jawaban Barli tentang ‘Dayak Kalimantan’. Saya jadi ingat saat saya bertandang ke ibukota saat masih kecil dulu. Di satu pusat perbelanjaan kami diikuti oleh seorang pria. Ketika pria itu mendekat dan bertanya pada uwa saya. “Orang Kalimantan ya, Bu?” dan dijawab uwa saya. “Iya, makan orang.” Pria itu langsung ngacir dari hadapan kami. Jadi, emang efektif deh ya ‘senjata’ itu. Wkwkwkwk….

Nah, menjelang akhir saya mau ada SPOILER dikit nih. Yang nggak suka SPOILER, jangan dibaca ya. Jadi, ya, di nyaris bagian akhir Lampau ini kan ceritanya si Ayuh ngirim novel tuh. Yang saya bingung, dia kan ngirim ke 3 penerbit sekaligus. Padahal yang saya baca dia Cuma ngetik 1 novel. Jadi? 1 novel untuk 3 penerbit? Itu pan nggak boleh kan ya? Trus nih dari cerita ini kayakna kalau udah nerbitin 1 novel bisa hidup sejahtera ya? Benar-benar menjadi angin segar buat para calon penulis kalau abis baca novel ini :D

Judul : Lampau
Penulis : sandi Firly
Editor : Gita Romadhona &eNHa
Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : x + 346 Halaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

LinkWithin