Pages

Jumat, 02 Mei 2014

Bahagia di Pondok Mertua Indah




Salah satu konflik yang sering muncul dalam pernikahan adalah konflik antara menantu dan mertua, dan yang lebih banyak terjadi adalah konflik antara mertua perempuan dengan menantu perempuan. Hasil riset di Utah State University menunjukkan, 60% pasangan suami-istri mengalami ketegangan hubungan dengan mertua, yang biasa terjadi antara menantu perempuan dan ibu mertua (Hal 7). Banyak Konflik akan semakin besar berpeluang terjadi jika mertua dan menantu sama-sama tinggal dalam satu rumah.
Setiap pasangan baru tentu menginginkan untuk hidup mandiri dan sudah punya rumah sendiri, tapi, karena beberapa hal ada yang harus menjalani hidup setelah menikah di rumah mertua. Seperti dua sisi mata uang, hidup di pondok mertua indah memang punya kelebihan dan kekurangan. Ada hal baik dan hal buruk dalam keputusan yang diambil.
Salah satu  hal baik jika tinggal dengan mertua adalah bisa merasakan ketenangan dalam hal tertentu. Misalkan ketika harus meninggalkan istri untuk bekerja dinas di luar kota, suami akan merasa lebih tenang karena di rumah istri ada yang menjaga. Atau jika berada dalam kondisi terdesak mengenai kebutuhan materi atau tersangkut masalah berat, mertua bisa dimintakan bantuan terkait hal itu. (Halaman 19). Sementara hal buruknya adalah dengan tinggal di rumah mertua akan membuat sebagian pasangan menjadi manja dan bergantung kepada orangtua sehingga tidak terlatih untuk mandiri. (Halaman 20)

Dalam kehidupan sehari-hari tentu banyak hal lain lagi yang terjadi ketika seorang menantu tinggal di rumah mertua yang bersinggungan dengan mertua dan menciptakan konflik di antara keduanya. Saat pertama kali setelah menikah tinggal di rumah mertua, tentu ada perasaan asing. Merasa ragu ketika keluar kamar untuk berkumpul dengan keluarga pasangan. Tips untuk keadaan ini adalah kenali keluarga baru anda, dan beradaptasilah. (Halaman 25)
Persoalan bekerja dan tidak bekerja juga bisa menimbulkan konflik. Seorang menantu yang terlalu sibuk bekerja dan hanya sedikit berada di rumah akan bisa menuai kritik dari mertua, untuk bisa meluangkan waktu untuk keluarga juga. Untuk menantu perempuan, masalah akan lebih rumit jika sudah memiliki anak. Maka sebagai menantu perempuan yang bekerja, berusaha menjadi terbaik adalah tuntutan, dan memang merupakan kewajiban. Sebisa mungkin pilihlah pekerjaan yang mendukung Anda tetap bisa melakukan kewajiban sebagai istri, ibu, dan pengatur rumah tangga. (Halaman 51)
Masalah yang terjadi jika tidak bekerja adalah misalkan menantu laki-laki tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan, sehingga menimbulkan pertanyaan bagi mertua kenapa menantunya tidak pergi ke kantor lagi. Hal ini tidak seharusnya dibiarkan dan membuat mertua dipenuhi akan prasangka. Jika hal ini terjadi, maka berceritalah, beri alasan, serta berusaha mandiri dan kreatif, jangan menjadi parasit. (Halaman 36)
Kondisi ketika memiliki buah hati juga bisa menimbulkan konflik. Tinggal satu atap dengan mertua, sedikit banyak akan membuat anak juga ‘dipegang’ oleh kakek dan neneknya. Apalagi jika tinggal serumah. Perbedaan pola asuh antara menantu dan mertua juga sering menjadikan itu konflik. Misal, mertua bisa dengan mudah berbohong ketika mencoba menghentikan tangis cucunya. Dengan mengatakan ada kucing lewat yang membuat anak berhenti menangis. Sementara hal seperti itu sangat dihindari oleh menantu dalam mendidik anaknya.
Begitupun dengan kebiasaan menonton televisi yang tidak ingin dibiasakan menantu pada anak-anaknya. Namun, hal itu tidak bisa dibiasakan karena di rumah mertua sudah terbiasa menonton televisi terus menerus.  Jika berada dalam kondisi seperti ini maka solusinya adalah bersabar, tetap memegang prinsip, mengkomunikasikan apa yang Anda inginkan dengan mertua dan ajak mertua bekerja sama terhadap pola pendidikan yang ingin anda terapkan pada anak-anak anda. (Halaman 96)
Ada 25 contoh hal-hal yang bisa memicu konflik dengan mertua yang ada di buku ini. Disajikan dengan ilustrasi kejadian di masing-masing contoh membuat saya yang biasanya lambat bener kalau baca nonfiksi jadi cepat baca buku ini. Ilustaris kejadian itu juga bisa membuat pembaca lebih memahami konflik yang terjadi dan membuat isi pembahasan buku lebih mudah dicerna. Untuk setiap pasangan yang masih tinggal di pondok mertua indah, kuncinya adalah sabar, nikmati, syukuri, yakini dan instrospeksi. Berusahalah menjadi menantu yang baik, sekaligus menjadi teman sejati bagi anak mertua, yaitu pasangan anda.
***

Judul :  Pondok Mertua Indah (101 Cara Hidup Bahagia Bersama Mertua)
Penulis :  Nunung Nurlaela
Penyunting :  Dewi Kartika Teguh Wati
Penerbit :  PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku :  148 Halaman
Tahun Terbit  :  2014
ISBN  :  9786020302003

8 komentar:

  1. Ah...akhirnya bisa kebuka juga...:-) btw, detail banget resensinya, sistematis. Keren! Makasih, ya. Di blog juga gak papa, saya sangat senang membacanya. Semoga bisa menjadi acuan untuk pembaca yang ingin membeli buku saya. Sekali lagi, terimakasih, ya...:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini karena targetnya media koran jadi bahasanya kayak gini, Mbak. Hehehe... Tapi belum rezeki tembus ke sana jadi ditayangkan di blog aja. Sama2 ya, Mbak. Semoga lancar untuk karya selanjutnya :-)

      Hapus
  2. Aamiin...

    Saya tunggu buku solomu ya....;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Belum mulai nulis apa2 nih, Mbak :D

      Hapus
  3. Wah emak-emak yang hebat.. jadi sebagiaan sedih, kpn aku bisa berhasil nulis buku ya..hikks. Keren bgt ini reviewnya,jadi pengin beli bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak... Saya juga bertanya-tanya kapan saya punya nafas panjang buat nulis buku. Huhuhu... Ayo kita semangat, Mbak :-)

      Hapus
  4. Saya juga masih terus mencoba. Semoga terpacu terus semangat kita, ya Mak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Iya, Mak. Melempem ini semangat nulis bukunya. Hiks. Tahun ini saya mau fokus nulis ke media dulu aja :-)

      Hapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin