Pages

Selasa, 30 Juni 2015

[Opini Bareng BBI] Bicara tentang Setting

      


      Bicara tentang setting, sebenarnya saya bukan orang yang terlalu cerewet tentang setting kalau sedang membaca buku. Maksudnya gini, ada teman yang bilang kalau dia membaca deskripsi tentang setting tempat di sebuah novel, dia akan membacanya dengan perlahan sembari membayangkan apa yang digambarkan di novel tersebut. Tak cukup sampai di situ, ia akan mengulang lagi membacanya sampai setting tempat itu benar-benar sempurna terbayang dalam imajinasinya. Saya orangnya bukan yang tipe seperti itu. Saya sih biasanya baca aja terus. Kalau nempel ya nempel. Kalau enggak ya sudahlah. Bahkan kalau setting yang detail dan panjaaaaaang banget bakalan saya skip bacanya.

            Saya bisa berubah cerewet tentang setting jika setting itu pernah saya datangi atau rasakan. Baru deh kalau gitu saya bisa detail membacanya. Kalau enggak cocok, bisa cerewet juga ngomel-ngomel di review. Tapiiii… Itu juga kalau memang saya lagi mood bawelnya. Ada juga setting yang enggak cocok tapi karena komponen cerita lainnya saya suka, jadi saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi di situlah para penulis harus berhati-hati agar tidak menuliskan setting dengan asal-asalan. Dari sekian banyak kemungkinan pembacanya, siapa tahu ada yang mengenal setting tempat tersebut. Kalau asal-asalan kan jadi ketahuan.


            Semisal, saya pernah saya membaca sebuah novel dengan setting tempat yang baru saya kunjungi. Setting Mekkah dan Madinah dengan setting waktu tahun 2008. Nah, pas banget tahun 2008 saya juga ke Tanah Suci. Jadi, saya tauuuu banget di tahun itu Pasar Seng di Mekkah sudah tidak ada. Jadi, saya tidak bisa menyaksikan wujud Pasar Seng yang kerap diceritakan Mama saya semanjak beliau berhaji di tahun 1992. Eh, di novel dengan setting waktu 2008 malah menyebut Pasar Seng.

            Setting tempat yang bisa saya cereweti juga kalau settingnya kampung halaman saya, suku saya, suka Banjar, Kalsel. Nah, kalau settingnya itu baru deh saya akan dengan pelan-pelan membacanya. Kecuali kalau yang nulis juga urang Banjar seperti Sandi Firly. Hahaha…. Biasanya nih ya kalau setting Kalsel gitu, yang sering rada janggal itu adalah penggunaan bahasa daerahnya. Beberapa novel yang saya baca bahasa Banjarnya kaku dan agak kurang cocok. Jadi, buat para penulis yang butuh penerjemah ke Bahasa Banjar bisa hubungi saya. Hahaha….

            Walau mengaku tidak terlalu perhatian dengan setting tempat, tapi ada juga loh setting tempat yang bikin saya penasaran sehabis membacanya. Yang paling saya ingat novel 5 cm. Sungguh saya kemudian berpenasaran dengan yang namanya Ranu Kumbolo, Puncak Mahameru, dan tempat-tempat lain yang disebutkan di sana. Saya sampai googling dan kepoin blog-blog yang memuat foto-foto tempat itu. Penasaran bagaimana foto negeri di atas awan yang digambarkan di novel tersebut. Makanya saat filmnya rilis, saya penasaran sekali mau nonton. Pengin lihat keindahan Indonesia dan proses pendakian lewat film tersebut. Selain 5 cm, ada beberapa novel lainnya juga yang bikin saya ingin mendatangi tempat tersebut. Seperti Teatrikal Hati dengan Wonosalamnya.

            Bagaimana setting yang kuat dalam sebuah cerita? Saya pernah dengar entah dari mana, kalau komponen cerita itu kuat dan bukan sekadar tempelan jika kita menggantinya dengan yang lain cerita akan terasa janggal. Kalau cerita baik-baik saja, maka komponen cerita itu tempelan. Semisal novel 5 cm lagi, kalau setting pendakian ke Mahamerunya kita ganti dengan yang lain apa menganggu jalan cerita? Jika ya, maka setting itu bukan sekadar tempelan.


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

LinkWithin