Pages

Senin, 12 Januari 2015

Pertanyaan-pertanyaan Besar Dalam Sebuah Perjalanan



Sebuah perjalanan selalu menghadirkan cerita-cerita baru. Cerita baru dari tempat baru yang didatangi atau kawan seperjalanan yang baru dijumpai. Apalagi kalau perjalanan itu menempuh jarak yang jauh dan dalam waktu yang lama. Semakin banyak  pengalaman dari perjalanan tersebut.

Kapal Blitar Holland adalah kapal yang mengantar para jamaah haji Indonesia (Hindia Belanda namanya waktu itu) ke Tanah Suci pada tahun 1938. Pada waktu itu muslim dan muslimah yang mau berangkat haji menggunakan kapal laut untuk menunaikan rukun islam kelima.


Ada beberapa orang dalam kapal Blitar Holland yang menjadi sentral cerita. Ada seorang alim yang bernama Ahmad Karaeng yang dipanggil sebagai Gurutta (Guru Kami). Ahmad Karaeng merupakan keturunan Raja Gowa pertama yang memeluk Islam, Sultan Alauddin. Dalam darahnya mengalir darah raja paling terkenal di Sulawesi, Sultan Hasannuddin – yang adalah cucu Sultan Alauddin. (Halaman 18)

Penumpang lainnya bernama Daeng Andipati. Daeng Andipati berangkat bersama keluarga, istri dan dua anak serta satu asisten rumah tangga mereka. Anna dan Elsa adalah anak dari Daeng Andipati yang ceria dan cerdas. Keceriaan mereka selalu menerbitkan senyum bagi penumpang kapal yang lain.

Selain penumpang ada crew kapal yang juga menjadi cerita di novel ini. Ambo Oleng adalah pelaut Bugis yang direkrut oleh Kapten Phillips yang merupakan Kapten Kapal. Niat Ambo Oleng mendaftar menjadi kelasi di Blitar Holland semata-mata karena ia ingin pergi jauh dari tempat dia tinggal. Membawa sebuah luka yang teramat menyakitkan karena wanita yang dicintainya dijodohkan keluarganya dengan lelaki lain.

Kapal Blitar Holland berangkat dari Makasar, kemudian berlabuh di beberapa pelabuhan untuk mengangkut penumpang calon jamaah haji yang lain. Di Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Padang, juga Aceh. Saat di Semarang, ada calon jamaah haji yang sudah renta yang dipanggil Mbah Kakung dan Mbah Puteri. Calhaj lansia ini menarik perhatian kapal karena kemesraan mereka walau sudah berusia lanjut. Mbah Kakung dan Mbak Puteri menempati kabin yang bersebelahan langsung dengan kabin Daeng Andipati dan keluarga.

Perjalanan yang tidak sebentar membuat penumpang kapal Blitar Holland melakukan aktivitas sehari-hari di atas kapal di tengah lautan. Gurutta yang mengambil inisiatif untuk tetap melakukan kegiatan-kegiatan di atas kapal tersebut. Agar kegiatan para penumpang tidak hanya makan, tidur dan shalat. Maka ada sekolah tiap pagi buat anak-anak, pelajaran mengaji di sore hari buat anak-anak juga yang diajar oleh Bonda Upe, juga majelis ilmu tiap sehabis shalat subuh yang diisi oleh Gurutta.

Dalam perjalanan itu pula tersibak pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mendekam dalam benak beberapa tokoh di dalamnya. Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan. (Halaman 222). Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mereka temukan jawabannya dan terus membebani perjalanan hidup hingga ke perjalanan ke tanah suci.

Salah satunya pertanyaan dari Daeng Andipati. Seseorang berkata bahwa hidup Daeng Andipati begitu sempurna karena berasal dari keluarga terpandang, lulusan sekolah di Rotterdam, punya usaha yang sukses hingga bergelimang harta, punya istri dan dua anak yang cantik juga menggemaskan. “Itu benar, jika kau hanya melihat dari luarnya. Mungkin aku bahagia, tapi tidak seperti itu,” kata Daeng Andipati.

Setelah itu Daeng Andipati pun bercerita kalau hidupnya tidak sesempurna kelihatannya. Dia menyimpan kebencian yang teramat sangat kepada ayahnya. Daeng Andipati tumbuh besar dengan melihat ayahnya yang ringan tangan. Ayahku suka memukul. Jika marah, dia akan memukul kami. Dia juga suka memukul Ibu. Tidak terbilang berapa banyak pukulan yang diterima oleh Ibu,” jelas Daeng Andipati. (Halaman 367)

 Gurutta yang menjadi tempat bertanya Daeng Andipati mencoba menjawab pertanyaan Daeng Andipati. “Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati. (Halaman 374)

Selain pertanyaan Daeng Andipati, masih ada empat pertanyaan besar lain dari orang yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan besar yang dibawa lima penumpang di dalam kapal Blitar Holland adalah kegalauan yang bisa menimpa setiap anak manusia. Jika kita memahami dengan baik jawaban dari pertanyaan itu maka itu adalah sebuah nasehat yang berharga sekali. Tentang masa lalu yang kelam, tentang kebencian yang mendekam dalam dada, tentang cinta yang tak bisa lagi diperjuangkan, dan tentang kehilangan juga melawan kemunkaran.

Persinggahan kapal di beragam kota membuat penulis menjabarkan tentang kota yang disinggahi tersebut dalam setting sebelum kemerdekaan. Begitupun informasi lain yang bisa menambah wawasan kita tanpa merasa dijejali dengan beragam informasi tersebut karena diselipkan dalam cerita.
***

Judul               : Rindu
Penulis             : Tere Liye
Penyunting      : Andriyati
Penerbit           : Republika
Tebal Buku      : ii + 544 Halaman
ISBN               : 978-602-8997-90-4

Tahun Terbit    : Cetakan I, Oktober 2014

**
Resensi ini dimuat di harian Tribun Kaltim, 4 Januari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

LinkWithin