Pages

Rabu, 14 Januari 2015

Cinta Beda Keyakinan, Ras, dan Warna Kulit



Indonesia mengalami peristiwa besar di tahun 1998 yang sampai sekarang pun masih teringat di benak orang-orang tentang peristiwa tersebut. Kejadian di tahun 1998 pun banyak menjadi setting dalam sebuah cerita. Yang saya ingat dulu pernah membaca novel 2 karya Dhonny Dirgantoro penulis novel 5 cm yang juga bercerita tentang kejadian tahun 1998. Kemudian kemarin menonton film Merry Riana yang setting ceritanya juga kerusuhan tahun 1998. Baru saja saya kelar membaca sebuah novel berjudul Dua Masa di Mata Fe karya Dyah Prameswarie yang juga mengambil setting waktu tahun 1998.

Keluarga Asen dilanda kecemasan saat kerusahan pecah di Jakarta. Cemas karena para perusuh memasang target akan menghabisi warga keturunan. Asen pun memutuskan keluarganya akan ke meninggalkan Jakarta dan pergi ke Surabaya. Surabaya menjadi tempat yang dituju karena mereka pernah tinggal di sana walaupun bukan masa-masa indah yang mereka lewati ketika berada di Surabaya.

Pernikahan Asen dan istrinya tidak mendapat restu dari kedua belah pihak. Asen adalah keturunan Cina, sementara Padma istrinya adalah keturunan India. Asen dan Padma telah dikaruniai 2 orang anak, Fe dan Edric. Namun, rencana ke Surabaya itu kandas karena sebelum fajar terbit lingkungan rumah mereka diserang. Sebenarnya Asen dan keluara sudah bersembunyi di dalam rumah saja, namun tetangga yang dengki mengabarkan kalau memang ada warga keturunan etnis Tionghoa di lingkungan tempat mereka tinggal. Padahal Asen sudah memasang tulisan di depan pintu rumah mereka dengan tulisan milik pribumi.

Tragedi pun terjadi pada keluarga Asen, mereka tidak hanya kehilangan rumah yang dibakar para penjarah tapi juga nyawa. Namun yang membuat para tetangga heran hanya ditemukan 3 jenazah di kediaman Asen. Padahal mereka sekeluarga berjumlah 4 orang. Ke mana satunya?

Fe, adalah nama yang selamat. Sebelum peristiwa penjarahan dan penyerangan itu terjadi, Fe bersembunyi di dalam bagasi mobil. Sementara mobil milik keluarga mereka dicuri oleh seseorang bernama Raish. Raish sendiri dalam kondisi terpaksa bergabung dengan para penjarah. Dia juga terkejut saat mengetahui kalau komplotannya bukan hanya menjarah tapi juga membakar dan membunuh. Raish dicekam ketakutan dan bersembunyi dari kejaran polisi di bawah setir mobil milik Asen. Raish memang bertugas untuk mengambil kendaraan pemilik rumah. Pada saat rombongan polisi bubar, Raish pun melarikan mobil tersebut.

Namun, di tengah perjalanan menuju rumahnya di Jawa Barat, Raish kaget mendapati ada satu orang manusia di bagasi mobil. Fe. Raish pun berlagak seperti seorang relawan yang menyelamatkan Fe dari kerusuhan di ibukota dan ingin mengembalikan Fe pada keluarga yang tersisa. Raish menyembunyikan kenyataan kalau dia adalah bagian yang membunuh dan menjarah keluarga Fe. Beragam peristiwa dan perjalanan dilalui keduanya. Hingga cinta pun bersemi di antara mereka.

***

Ketika membaca bagian awal novel ini, ingatan saya langsung tertuju pada bagian awal film Merry Riana yang saya tonton beberapa hari yang lalu. Nyaris persis sama. Ada keluarga keturunan yang menonton TV tentang kerusuhan dan kemudian dilanda kecemasan. Pun dengan tulisan di ruko-ruko yang mengklaim milik pribumi atau milik muslim pribumi. Saya dapat merasakan ketegangan yang terjadi saat itu. Tapi novel ini terbit sebelum film Merry Riana rilis, buku Merry Riana pun tak sepenuhnya sama dengan filmnya. Jadi, saya menyimpulkan tidak ada plagiat karena kesamaan ini.

Ketegangan yang sama juga saya rasakan saat Fe dan Raish berada di rumah penduduk ketika mobil mereka mogok. Yang saya sayangkan, kenapa Raish tidak memperhitungkan situasi. Perjalanan Bandung-Surabaya jauh karena ditempuh dengan mobil tua, mengapa tidak berpikir untuk menginap di salah satu penginapan di salah satu kota. Hingga tidak terjebak pada situasi yang mengancam jiwa. Tapi ya namanya juga cerita :p

Rasanya juga gemes sekali dengan sikap beberapa orang di dalam novel ini yang membuat konflik jadi terjadi. Semisal, Asen ayahnya Fe yang menolak usulan orang-orang agar segera pergi dari ibukota saat itu juga. Bukannya setuju malah mengulur waktu sampai pagi. Entah oleh alasan apa.

Begitu pun dengan ulah salah satu tentangga Asen yang justru menunjukkan di mana saja rumah milik warga keturunan, padahal salah satu penduduk bernama Ahmad sudah berjuang untuk tutup mulut walau harus dihajar massa. Itulah bahayanya dengki. Tetangga Asen itu mendengki karena warga keturunan di sana lebih maju usahanya ketimbang dirinya.

Tapi polah tokoh di dalam novel ini yang bikin saya gemes justru memberikan pelajaran pada kita untuk memperhitungkan segala sesuatu dalam mengambil keputusan. Bahwa keputusan yang kita ambil pada detik ini akan berimbas pada masa yang akan datang, baik atau buruk.

Membaca prolog, blurb dan judulnya, saya tadinya menduga novel ini akan mengetengahkan konflik yang begitu kental tentang cinta beda ras dan agama. Karena ada kata-kata di blurb ‘saat anakku tiba-tiba menjadi diriku, mengalami hal yang sama, dan jatuh cinta pada orang yang berbeda warna kulit, mata, dan keyakinan.’. Namun, konflik itu kurang tergarap dengan baik, karena cerita tentang anaknya hanya pada prolog dan epilog.

Sekiranya tempo penceritaan lebih dipercepat, sehingga cerita tidak berakhir di stasiun tentu akan lebih memperdalam konflik yang terjadi. Atau bisa juga diceritakan dengan alur maju mundur, pada masa tahun 1998 dan sekarang. Oya, cinta antara Fe dan Raish tidak hanya terbentur pada keyakinan, ras, dan warna kulit yang beda. Ingat, Raish juga berperan dalam menjarah dan menghilangkan nyawa keluarga Fe. So, bagaimana penulis meramu konflik tersebut dalam cerita? Sila baca di bukunya. Hihihi…..


Judul               : Dua Masa di Mata Fe
Penulis             : Dyah Prameswarie
Penyunting      : Sasa
Penerbit           : Moka Media
Tebal Buku      : iv + 220 Halaman
ISBN               : 979-795-872-8
Tahun Terbit    : 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

LinkWithin