Pages

Kamis, 29 Mei 2014

99 Cahaya di Langit Eropa



Buku ini memuat tentang catatan perjalanan Hanum selama menemani suaminya, Rangga, yang menempuh studi di Austria. Namun, buku itu berbeda dengan buku-buku traveling yang banyak beredar. Karena buku ini banyak menyibak tentang hal-hal di Eropa yang berkaitan dengan dunia Islam. Seperti yang disebut Hanum di halaman pembuka buku ini, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan.
 
Maka dimulailah perjalanan Hanum. Perjalanan yang awalnya dipandu oleh Fatma Pasha, seorang teman yang Hanum jumpai di tempat dia belajar kursus bahasa Jerman. Lewat Fatma, Hanum mendapatkan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana membalas kejahilan dengan kebaikan, dan imbasnya sungguh berbeda ketimbang kekasaran dibalas dengan kekasaran *sambil menulis saya jadi malu sendiri karena saya tidak bisa seperti itu*

Rabu, 28 Mei 2014

Yummy Tummy Marriage



Beberapa waktu yang lalu aku menemukan sebuah blog yang dimiliki oleh Nurilla Iryani. Menemukannya di malam saat aku susah tidur dan aku merasa menemukan harta karun yang membuat malam susah tidur itu menjadi menyenangkan. Terlebih saat membaca blog-blog itu aku juga kepengin lebih aktif lagi ngeblog. Yup, aku penggemar tulisan-tulisan Nurilla di blognya. Entah kesukaan itu disebabkan apa, mungkin karena aku senang aja dengan celotehannya itu.

Lewat blog itu juga lah aku tau kalauy Nurilla ini menelorkan beberapa judul novel. Tapi, fans blog dia tidak serta merta membuat aku langsung membeli bukunya dia. Jelas dong ya bedanya, kalau blog kan bisa kubaca gratis hanya bermodal jaringan inet, tapi kalau buku kan mesti beli :p :p :p. Jadi, saat aku menemukan kalau bukunya NI ini dilelang di Grup Pembaca Buku Bentang, aku semangat banget ikutan. Sayangnya karena terlalu pelit nawar aku jadi kalah cuma 1500 rupiah dengan penawar tertinggi di detik terakhir. Ihiks. Nyesak banget.

Senin, 19 Mei 2014

Cerita Anak Loksado dalam LAMPAU



Rasanya baru pertama kali saya membaca novel terbitan Gagas Media yang unsur lokalitasnya kental banget. Saya juga nggak tau sih apa ini novel pertama dengan unsur lokalitas yang kental yang diterbitkan Gagas, soalna saya jarang memburu novel dengan unsur lokalitas yang kental. Saya lebih suka novel-novel yang bersetting kota metropolitan. Soalna saya kan udah tinggal di kampong, Cyin. Hahaha…. Jadi, bolehlah saya menengok kehidupan di kota besar lewat tulisan-tulisan :p :p :p

Tapi, novel Lampau ini memang beda. Karena bersetting di salah satu daerah di Kalimantan Selatan. Itu kampung saya, Bok. Walaupun setting yang diambil di novel itu belum pernah saya datangi, kecuali Kandangan dan Banjarbaru tentunya. Saya belum pernah ke Loksado. Jangankan Loksado, Tanuhi juga belum pernah :p


Setting novel ini ada di Loksado, mengambil tokoh utama orang yang berasal dari sana dengan dekapan adat yang begitu kental. Ayuh atau Sandayuhan ditakdirkan terlahir dari seorang Balian, seseorang yang dinilai sakti di Loksado sana. Mendengar Balian ingatan saya langsung melayang pada scene film 12 menit, pada ayahnya Lahang dan sederet pengobatan untuknya. Mungkin seperti itu ya Balian yang dimaksud di novel ini.

Selasa, 13 Mei 2014

That Summer Breeze



Perlu 3 orang buat menemukan buku ini di Gramedia. Saya, suami dan satu karyawan Gramedia Balikpapan. Saya ngebet pengin beli buku ini karena 2 alasan. Alasan pertama, Ini adalah karya Orizuka. Saya memang lagi penasaran dengan karya penulis yang satu ini. Dan hanya bermodal katanya-katanya tanpa pernah membaca satu pun karyanya, saya langsung membeli 3 buku Orizuka. Sebuah pertaruhan besar yang tidak pernah saya lakukan terhadap penulis lain. 

Alasan kedua karena harganya lumayan miring. 39 ribu sekian ditambah diskon 20% pulak. Makanya saya berputar-putar, berjongkok, berdiri di deretan novel demi mendapatkan buku ini. Memanggil karyawan Gramedia juga buat membantu saya karena sewaktu dicek di komputer masih ada stok 9 buku. Setelah 3 orang itu nyaris menyerah, Mas-mas karyawan Gramedia itu akhirnya menarik temannya buat membantu mencari apa yang saya mau. Yang ternyata langsung dijawab temannya, buku ini ada di rak depan dekat kasir. Gubrak! Coba nanya karyawan satu itu dari tadi. Tapi, kalau nggak gitu ga berasa dunk perjuangan mencarinya

Akhirnya buku ini saya dapatkan juga dengan harga 31 ribu sekian. Lumayan murah deh dibanding novel-novel dengan ukuran sejenis.

Dan hari ini saya menyelesaikan novel ini dengan berlinangan airmata. Huhuhu.... Sediiiih T_T. Saya penyuka happy ending, lho. Tapi, saya menghargai pilihan penulis buat menghadirkan ending seperti ini.

Minggu, 04 Mei 2014

Paket Komplit dalam Betang

     
Berada dalam kondisi dilematis, antara ingin tetap tinggal bersama orang yang dicintai atau melangkah meraih mimpi, itulah yang dirasakan Danum. Di satu sisi Danum ingin terus tinggal bersama Kai (kakeknya) di rumah Betang yang sudah tak seramai dulu. Di sisi lain, Danum juga pernah punya mimpi untuk meraih mimpinya menjadi atlet dayung yang berkeliling dunia membawa nama Indonesia. Kehidupan di rumah Betang membuat Danum enggan meninggalkannya, maka ketika kesempatan untuk mengikuti seleksi masuk pelatda dayung, Danum seperti mendapatkan mimpi yang sudah tak dia inginkan lagi.

            Arba dan Kai terus mendorong Danum agar memperjuangkan mimpinya. Mimpi yang telah dirajut Danum semenjak kecil. Bersama seseorang yang sepantaran dengannya di rumah Betang : Dehen. Dehen yang kini telah menjadi atlet dayung nasional.

Perjalanan Hidup 4 Wanita dalam Teatrikal Hati



Teatrikal Hati bercerita tentang banyak tokoh yang diceritakan dengan sudut pandang orang pertama. Ada 4 tokoh wanita yang menjadi pusat cerita dengan porsi penceritaan hampir merata karena 4 wanita itu juga terkait satu dan yang lainnya.



Wanita pertama bernama Zahra Azkia. Seorang mantan artis yang memutuskan untuk berhijab dan kemudian mengambil peran di belakang layar sebagai sutradara kemudian menjadi produser. Mendapat tugas dari perusaan tempat dia bernaung Tropical Entertainment (TE) untuk menggarap suatu film layar lebar bertema kemanusiaan dan cinta. Zahra Azkia dari masa kuliah sampai bekerja dia tak pernah lepas dari olok-olok orang di sekitarnya yang menjodohkan dia dengan Fardan, seorang sutradara berbakat yang menyutradai film di mana Zahra yang menjadi produser film tersebut.

Wanita kedua bernama Linda Arum, wanita yang mendambakan sebuah rumah tangga yang romantis tapi apa daya dia menikah dengan seorang dokter yang kikuk. Rumah tangga yang mereka bangun tidak hanya senyap tanpa celoteh anak-anak tapi juga dingin dan kikuk dalam komunikasi keduanya. Walaupun dalam bayangan setiap orang mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Impian untuk mendapati kehidupan rumah tangga yang romantis hanya dituangkan Linda Arum dalam karya fiksinya. 

Jumat, 02 Mei 2014

Bahagia di Pondok Mertua Indah




Salah satu konflik yang sering muncul dalam pernikahan adalah konflik antara menantu dan mertua, dan yang lebih banyak terjadi adalah konflik antara mertua perempuan dengan menantu perempuan. Hasil riset di Utah State University menunjukkan, 60% pasangan suami-istri mengalami ketegangan hubungan dengan mertua, yang biasa terjadi antara menantu perempuan dan ibu mertua (Hal 7). Banyak Konflik akan semakin besar berpeluang terjadi jika mertua dan menantu sama-sama tinggal dalam satu rumah.
Setiap pasangan baru tentu menginginkan untuk hidup mandiri dan sudah punya rumah sendiri, tapi, karena beberapa hal ada yang harus menjalani hidup setelah menikah di rumah mertua. Seperti dua sisi mata uang, hidup di pondok mertua indah memang punya kelebihan dan kekurangan. Ada hal baik dan hal buruk dalam keputusan yang diambil.
Salah satu  hal baik jika tinggal dengan mertua adalah bisa merasakan ketenangan dalam hal tertentu. Misalkan ketika harus meninggalkan istri untuk bekerja dinas di luar kota, suami akan merasa lebih tenang karena di rumah istri ada yang menjaga. Atau jika berada dalam kondisi terdesak mengenai kebutuhan materi atau tersangkut masalah berat, mertua bisa dimintakan bantuan terkait hal itu. (Halaman 19). Sementara hal buruknya adalah dengan tinggal di rumah mertua akan membuat sebagian pasangan menjadi manja dan bergantung kepada orangtua sehingga tidak terlatih untuk mandiri. (Halaman 20)

LinkWithin