Pages

Senin, 02 Juni 2014

Kisah Perjuangan Anak Yatim



Proses menjadi mutiara sungguh sangat luar biasa, dari hanya sebutir pasir yang masuk ke dalam kerang di dasar lautan. Hingga mengakibatkan kerang itu merasa sakit yang amat sangat sampai akhirnya kerang itu mengeluarkan getah yang ada di dalamnya hingga terbentuk sebuah mutiara yang cantik dan berharga. (Jangan Menyerah, 113)

Deret kalimat di atas adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan buku ini. Tentu bukan suatu hal yang mudah, ketika tulang punggung keluarga pergi dan tak bisa kembali lagi. Goncangan dari segi financial adalah hal yang kerap menerpa. Disertai dengan keyakinan kalau Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak sanggup dipikul hambaNya, maka kisah-kisah di buku Jangan Menyerah ini hadir. Mereka mencoba berusaha untuk berdikari sendiri. 

Tidak mudah bagi seorang anak kehilangan orangtuanya, baik kehilangan bapak atau pun ibu. Terlebih jika seorang anak bungsu yang ditinggal wafat ibunya ketika masih kecil. Hal itulah yang dialami Fazat Azizah. Ibundanya dipanggil Yang Kuasa saat dia masih duduk di TK B. Hari-hari gadis perempuan kecil itu pun menjadi hampa, batinnya terkoyak. Tapi, memasuki usia SD, dia kembali menyalakan semangat dalam dirinya, meraih prestasi demi aura bangga dari mata bapaknya. 

Namun kenyataan membuat Fazat kembali berduka, dia kehilangan bapaknya pada saat ujian SD. Di bangku MTs, semangat Fazat kembali kendur. Dia merasa tidak perlu lagi berusaha dengan keras untuk berprestasi karena tidak akan ada lagi senyum bangga dari bapak yang akan ia temui. Tapi, keinginan untuk mewujudkan cita-citanya membuat dia belajar giat untuk bisa tembus ke universitas idaman, walaupun pada akhirnya gagal tercapai. 

Ketidakberhasilannya menembus ITB membuat Fazat akhirnya mengikuti seleksi masuk MEC (Mandiri Entrepreuner Center). Di sanalah Fazat bisa meraih prestasi demi prestasi. 

Cerita lain di buku ini dituturkan oleh Nunu El Fasa. Sejak kecil dia bercita-cita untuk menjadi guru matematika. Namun, karena tidak ingin merepotkan sang kakak yang menopang hidupnya setelah kedua orangtuanya wafat, dia menolak mengikuti penawaran PMDK. Dia bertekad untuk mengubah kembali konstruksi mimpi yang telah dibangunnya. Bekerja dahulu baru kuliah atau bisa jadi di pertengahan kerja sambil kuliah malam. (Hal 194)

Nunu selalu menjaga agar dia berada dalam lingkup passion-nya yaitu dalam bidang matematika. Ketika bekerja dia pun memilih bidang yang tak jauh dari matematika. Di tahun kedua setelah melepas seragam putih abu-abu, Nunu menerima tawaran kakaknya buat kuliah di jurusan yang menjadi impiannya yaitu matematika. Di dua semester awal, dia berhasil mempersembahkan IPK terbaik buat kakaknya. Meskipun perjalanan satu tahun kuliah, tidak berjalan mulus sesuai dengan harapannya. Jatuh bangun perjuangannya untuk tetap bertahan mengisi hari-hari di setahun pertama itu. 

Pada tahun kedua kuliah, Nunu memutuskan memutar arah perjalanan. Cuti kuliah dan mengambil beasiswa Mandiri Entrepreneur Center (MEC). Walau tidak mendapat restu dari kedua kakaknya, tapi Nunu tetap keukeuh mengambil beasiswa MEC itu karena surat cuti kuliahnya sudah dikeluarkan. Ada satu ilmu yang harus dikuasai semua penerima beasiswa MEC yaitu entrepreneur. Di sanalah Nunu mulai mengandalkan kemampuannya dengan membuka les matematika. Nunu pun merasakan telah menemukan passion-nya di Surabaya hingga membuat dia meninggalkan bangku kuliahnya di Jombang saat masa cuti kuliahnya sudah habis. 

Di tengah kesibukannya, Nunu juga terus belajar untuk menguasai satu bidang yang baru dia kenal yaitu internet. Di sanalah dia mengenal blog dan mengisinya dengan beragam ilmu yang dia minati. Dia menulis resep menghafalkan rumus, link-link video matematika sampai cara menghitung tanpa angka. Pengunjung blognya pun semakin banyak, aktivitas Nunu pun bergerak ke bidang kepenulisan dan Nunu mulai menemukan serta menggapai mimpinya untuk berbagi ilmu yang dia gemari. 

Buku ini memuat tentang cerita-cerita perjuangan anak-anak yatim dalam meraih impian mereka. Di tengah segala keterbatasan karena kehilangan tulang punggung keluarga yaitu ayah mereka, mereka terus berusaha untuk bisa menggapai masa depan yang lebih baik. Dengan didampingi oleh Ibu Sofie Beatrix untuk kisah-kisah yang ditulis di buku ini, memang menjadikan buku ini jadi punya gaya bahasa yang nyaris seragam dan menjadikan semua kisahnya menjadi nyaman buat dibaca. Biasanya dalam satu antologi ada tulisan yang menonjol sekali dan ada yang biasa saja. Tapi, hal itu tidak saya temui di buku ini.

Lewat buku ini saya juga mengetahui tentang Program Yatim Mandiri. Sebuah lembaga nirlaba yang focus pada upaya memandirikan anak yatim dan janda dhuafa melalui dana ziswaf. Info tentang yatim mandiri bisa dilihat di www.yatimandiri.org atau di twitter @YatimMandiri dan FB : Yatim Mandiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentar Anda

LinkWithin