Pages

Sabtu, 28 Desember 2013

Novel tentang Gaza yang dibalut Ilmu Psikologi

Judul : RinaiPenulis : Sinta Yudisia
ISBN : 978-602-8277-65-5
Penerbit : Gizone Books (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Penyunting Bahasa : Mastris Radymas
Tahun Terbit : 2012 (Cetakan Pertama)
Tebal : 400 halaman
Harga Buku : Rp. 65.000,-

 

Rinai Hujan adalah seorang mahasiswi psikologi yang dengan alasan menjalankan misi kemanusiaan menembus satuan penjaga perbatasan hingga bisa memasuki wilayah Palestina yang menjadi sasaran utama penyerangan Israel : Gaza. Tentu saja Rinai tidak datang sendiri, dia bergabung dalam sebuah organisasi independent bernama HRHW (Humanity Relief for Humanitarian Welferare). Konflik di Gaza yang tengah mendapat sorotan dunia membuat HRHW mengirimkan relawan ke sana.

  Rinai tergabung dalam relawan medis yang akan membantu mengatasi trauma terkait fisik dan psikis. Dia ada di bawah komando dosennya Nora Efendi yang juga membawa seorang kakak kelasnya Amaretta, mahasiswi Nora yang masih mengambil S2 dan sering membantu Nora di berbagai penelitian. Juga kakak kelas Rinai yang lain bernama Orion.



  Rinai datang dengan segala konflik yang ada dalam kehidupannya, dengan segala pertanyaan dan ketidakmengertiannya pada orang-orang di sekitarnya. Kehidupan keluarganya yang selalu menomorsatukan laki-laki, kakak laki-lakinya yang kerap berkonflik dengannya, juga penciutan nyalinya jika berhadapan dengan Amaretta. Rinai seperti yang digambarkan Farzana, rekannya yang lain dalam tim healing traumatic adalah sosok yang kadang sangat penakut, kadang begitu penuh imajinasi dan semangat, kadang malah penurut tanpa inisiatif sama sekali dan masih dipenuhi mood disaster, seperti yang diakui Rinai sendiri (hal 168)


  Pada saat di Gaza pun Rinai tak lepas dari yang namanya masalah. Mimpi tentang ular yang terus menggentayangi dirinya dari tanah air hingga Gaza. Rinai mengetahui kalau dalam teori psikoanalisis yang digagas Freud menyatakan ular sama dengan alat reproduksi laki-laki. Rinai merasa terjajah dengan mimpi ular yang begitu sering mengunjunginya.


  Di Gaza pula lah terjadi friksi Rinai dengan anggota setimnya dan beragam hal lain yang menyertai perjalanan Rinai, dari desingan peluru, anak-anak Gaza yang merebut perhatian Rinai hingga debar perasaan pada seseorang di sana. Berpetualang jauh ke negeri orang tanpa dibekali hati sekuat beton pondasi bangunan pencakar langit, hanya akan membuat air mata dan hati yang kecut terbentur-bentur rasa sesal bercampur kemarahan yang memampat (hal 299).


  Sinta Yudisia, penulis Rinai yang sudah pernah menjejak tanah Gaza dan mengambil pendidikan di bidang psikologi, sehingga dua hal itulah yang mendominasi jalannya cerita.


  Rinai bercerita tentang Gaza, memberitahukan tentang bagaimana keadaan di Palestina sana. Bagaimana mereka melewati hari-hari, apakah selalu dalam ketakutan dan kecemasan dalam tiap detik kehidupan. Bagaimana para anak kecil di sana bersekolah dan melalui masa emas pertumbuhan mereka. Bagaimana para wanita hidup dan tumbuh, mendidik anak-anak masa depan Gaza juga bersiap setiap saat menjadi janda. Rinai juga mendeskripsikan Gaza dengan sangat detail : Khan Younis, Deir Balah, Gaza City, rumah sakit Asy-Syifa dan Jabaliya. Juga bagaimana ketika melalui beragam cek point, melewati perbatasan yang dijaga sangat ketat saat ingin menembus Gaza.


  Rinai adalah novel yang dibalut dengan ilmu psikologi. Banyak bagian yang dikemas dengan menyelipkan ilmu psikologi. Baik dari perkenalan tokoh per tokoh, dialog hingga narasi. Menambah wawasan bagi pembaca Rinai tentang dunia psikologi, walau porsi selipan ilmu psikologi ini agak kebanyakan. Di beberapa bagian malah membuat bosan dan seperti bukan membaca novel, tapi membaca diktat psikologi. Namun, kalau tidak dibalut dalam bentuk novel seperti ini, mungkin pembaca seperti saya tak akan rela memaksa mata menelusuri aksara demi aksara tentang beragam teori psikologi itu.


  Dalam badan cerita Rinai, ada istilah-istilah tertentu dan butuh penjelasan lewat catatan kaki. Sayangnya catatan kaki itu justru ditaruh di akhir bagian novel. Hal yang sungguh mengganggu kenyamanan membaca. Ada baiknya catatan kaki ditaruh di bawah halaman saja, bukan di akhir bagian novel. Dengan begitu, pembaca hanya perlu menggerakkan mata ke bawah, tanpa melibatkan tangan yang harus membolak balik novel ke halaman akhir.


  Jika buku diibaratkan sebagai kudapan, maka novel ini bukan hanya sekadar cemilan tapi sebuah makanan -bagi jiwa dan pikiran- yang mengenyangkan, jamuan yang menyuguhkan nilai dan makna buat para pembaca. Ada sesuatu yang tertinggal dan membekas ketika selesai membacanya. Karena, selepas membaca Rinai saya diingatkan lagi akan pentingnya berinteraksi dengan Al-Qur’an. Qur’an adalah katarsis utama. Lelah dan penat, sedih dan murka, gelora dan emosional, selalu berobat pada Qur’an (hal 393).


  Begitu juga saat Rinai mengemukan misteri dibalik mimpi ular yang kerap menyapanya dalam tidur. Menjawab pertanyaan saya bertahun-tahun yang lalu karena pernah dikunjungi mimpi yang sama. Andai kau ingin tahu apa makna mimpimu jika sama dengan mimpiku, kusarankan : menjauhlah dari Freud. Mendekatlah selangkah pada Ibnu Khaldun (hal 9). Maka, menemukan pendapat Ibnu Khaldun seperti… Eureka (hal 387).


***

8 komentar:

  1. Komentarnya masih sama kayak dulu. Nama kok Rinai Hujan? Hehehe...
    Sukses ya Yan buat lombanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiiih ya, Ka :D
      Kemarin ynt jawab apa ya tentang nama Rinai Hujan? Ehehe... Nama bagus kok itu :p

      Hapus
  2. Oya, mimpi ular artinya apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya sih ada musuh gitu dalam alam bawah sadar kita.

      Hapus
  3. oooh Rinai itu nama orang ya? Kalo mimpi ular bukannya ada gangguan jin? Sukses ya Yanti:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Nama tokoh utamanya. Kalau di sini mimpi ularnya bukan gangguan jin, Mbak. Tapi ada musuh dalam diri kita. Semacam kita memusuhi sesuatu, membenci sesuatu dan terbawa ke alam bawah sadar kita. Makasih ya mbak Naqi :)

      Hapus
  4. penulisnya jadiin novel dari pengalamannya ya? kayaknya pengalaman jadi mahasiswa perlu dikeluarkan juga.. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau nulis novel juga ya, Ka? Yuk ah nanti kita diskusikan sambil makan2 kepiting ya. Hahahaha.....

      Hapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin