Pages

Rabu, 01 Januari 2014

Kelindan Romansa dan Konflik dalam Da Conspiracao

  Membaca karya seorang Afifah Afra kita harus bersiap dengan taburan kejutan hasil tangan dingin penulis yang ahli membelokkan cerita. Terlebih pada karya beliau yang berjudul Da Conspiracao, sebuah konspirasi, yang dari judulnya saja sudah dapat ditebak ada aroma konspirasi yang kental. Konspirasi tentu tidak dijalankan dengan terang benderang, tapi secara halus yang membuat kejutan-kejutan itu semakin banyak berkelindan di karya ini.

  Da Conspiracao merupakan buku ketiga dari tetralogi (atau pentalogi?) De Winst. Pada bab awalnya pembaca sudah diperkanalkan dengan tokoh baru yang tidak muncul di dua buku pendahulunya, Tan Sun Nio. Seorang gadis Tionghoa yang cantik, keras kepala tapi juga cerdas. Tan Sun Nio geram karena pada hari yang ditentukan, sang pujaan hati Daniel Lim tidak datang untuk melamarnya.



  Dia pun memenuhi janji yang pernah dia katakan pada ayahnya. Jika pujaan hatinya itu tidak datang melamarnya, maka Tan Sun Nio bersedia menjadi budak Tan Seng Hun, kakak kandungnya, sampai datang calon suami sehebat Daniel Liem yang datang melamar.  Janji itulah yang kemudian membawanya ke Flores, tempat sang kakak berada. Di Flores juga Tan Sun Nio bertemu dengan Rangga Puruhita, yang mengalami masa pembuangan di sana.

  Selain dua tokoh di atas ada juga tokoh-tokoh lain yang berkelindan di sepanjang cerita. Herman Zondag, seorang bintara KNIL yang ditugasi untuk mengawal Rangga. Seorang pengawal yang punya loyalitas sangat tinggi pada Ratu Belanda. Ada Hans Van Parsie, seorang peneliti danau tiga warna kelimutu yang juga adalah keponakan Johannes Van Parsie, seorang pastor yang berdiam di sebuah rumah batu dekat gereja berdampingan dengan tempat Rangga tinggal, ada satu Van Parsie lagi yang hadir dalam Da Conspiracao. Bukan, orang terakhir bukan Robin Van Parsie, maaf harus mengecewakan para penggemar Setan Merah. Orang terakhir yang juga seorang Van Parsie adalah Maria Dewi Van Parsie, seorang pribumi yang diangkat menjadi anak oleh Johannes Van Parsie.


  Selain itu ada Ramos, orang kepercayaan Tan Seng Hun yang kemudian setelah kepergian Tan Seng Hun menjadi tangan kanan Tan Sun Nio. Juga Tuan Djanggo Da Silva, bajak laut yang menjadi tempat beberapa tokoh penting di novel ini berguru. Ada juga seorang Mari Nusa yang satu generasi dengan Mari Longa, tokoh pemberontakan dari Watunggere yang punya semangat perjuangan yang tinggi walau diceritakan perjuangannya salah strategi. 


  Semua tokoh tersebut, memainkan peran dan konflik dalam alur dan plot yang penuh dengan kejutan. Tokoh-tokoh itu tidak muncul seketika dan hilang seketika karena novel ini terdiri dari 632 halaman, tentu punya banyak ruang untuk menceritakan kemunculan dan peran masing-masing tokoh di dalamnya.


  Da Conspiracao terasa lebih trengginas dibanding dua buku sebelumnya. Banyak kejadian-kejadian yang membuat kita harus menahan nafas ketika membacanya. Dan penulisnya pun sepertinya sangat senang sekali menyuguhkan binatang ular untuk kejadian-kejadian yang menegangkan itu. Sebut saja ketika Rangga berada di ruang tertutup ketika disekap oleh Tuan Djanggo Da Silva. Dan juga ketika Tan Sun Nio melarikan diri dari rumahnya sendiri yang dikuasai Ramos.


  Membaca Da Conspiracao kita diingatkan lagi tentang perjuangan menuju kemerdekaan yang tidak mudah yang ditempuh oleh para pejuang di negeri ini. Para pejuang pun tidak serta merta kompak untuk mengusung Indonesia Merdeka, berdasarkan ego dan kepentingan mereka juga ada yang ingin memerdekan daerah sendiri. Terlepas dari Nusantara yang direncanakan membentang dari Sabang sampai Marauke.


  Ada 1-2 kesalahan ketik yang saya temui sepanjang membaca novel ini. Saya malah menduga kalau penulisnya sempat bimbang untuk memakai sudut pandang orang pertama atau ketiga. Dugaan yang didasari ketika membaca halaman 65. Di mana di situ di paragraf awal halaman itu menggunakan sudut pandang orang ketiga, sementara paragraf selanjutnya kembali menggunakan sudut pandang orang pertama. 




  Kesalahan ketik di badan cerita untuk novel setebal ini bagi saya masih sangat bisa dimaklumi. Tapi kalau typo justru ada pada judul dan daftar isi? Hemm... Ini sedikit lebih fatal ya ketimbang typo yang ada di badan cerita. Hal ini saya temukan pada episode Rangga di halaman 77 yang ketinggalan huruf A, dan di daftar isi yang menunjukkan bab yang sama ketinggalan huruf E.


  Penggunaan sudut pandang orang pertama dari diri Rangga dan Tan Sun Nio juga membuat beberapa hal menjadi terlalu dipaksakan untuk dibuka lewat tutur lisan. Contoh yang paling nyata saya temukan pada halaman 627. Atas dasar kepentingan apa pihak KNIL membuka siapa intel dibalik semua cerita kepada Rangga? Walaupun Rangga tidak akan berada di Flores lagi tapi rasanya janggal kalau intel malah diberitahu secara gamblang oleh seorang Gubernur Jendral.


  Karakter Rangga yang seorang womanizer juga menarik perhatian saya. Bukan menarik perhatian karena saya ikut-ikutan tertarik, tapi justru karena gregetan bin gemes. Rangga diceritakan begitu mudah jatuh cinta dengan seorang wanita cantik. Padahal Rangga sudah menikah dengan Evardene dan juga dia juga masih merasa tertarik dengan sepupu yang dulu dijodohkan dengannya Sekar Prambajoen. Begitu pun dengan para wanita-wanita muda di novel ini yang semua tertarik pada Rangga. Dari Tan Sun Nio, Maria Dewi Van Parsie, puteri dari Tuan Abdullah Arubusman. Bahkan mungkin seandainya Marwah, seseorang yang ditemui Tan Sun Nio dalam perjalanannya ke Makasar bertemu dengan Rangga, bisa-bisa juga ikut tertarik. Romansa Rangga dengan wanita juga berkelindan di sepanjang novel ini. 


  Tapi tentu saja apa yang saya sampaikan itu hanya kerikil kecil di novel tebal dengan konflik padat yang memukau ini. Belum lagi sepanjang membacanya ada beragam info yang menambah wawasan yang menambah nilai plus novel ini. Berkaitan dengan sejarah tentunya. Seperti tentang politik etis yang dijelaskan Rangga kepada Herman Zondag, tentang pecahnya kerajaan Mataram Islam (hal 270) dan banyak hal lain lagi yang memperkaya pengetahuan pembacanya.


  Seperti yang saya sebut di awal tulisan ini, membaca Da Conspiracao juga banyak sekali kejutan yang berkelindan di dalamnya. Hingga setiap berakhir satu bab akan didera rasa penasaran hingga ingin secepatnya melahap bab berikutnya. Sampai lembar terakhir cerita pun tetap sarat akan kejutan.


  Maka, buku ini sangat layak untuk kita apresiasi. Tentulah penulisnya punya nafas yang panjang dalam menulis hingga mampu menulis novel setebal Da Conspiracao dengan apik serta menarik. Apalagi ada kabar angin yang menyebutkan lanjutan Da Conspiracao akan berjumlah 1000 halaman. Wah, saya sudah tak sabar menantinya.


  

Judul : Da Conspiracao
Penulis : Afifah Afra
Penyunting Bahasa : Mastris Radyamas
Penerbit : Afra Publishing (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tahun terbit : 2012
Tebal dan Ukuran Buku : 632 hlm.; 20 cm
Harga : Rp. 65.000,-
ISBN : 978-602-8277-66-2
  
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Resensi Buku Indiva 2013

4 komentar:

  1. wow...ternyata tebal juga yak -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Tebal bukunya. Tapi bisa selesai beberapa hari bacanya :D

      Hapus
  2. yg jadi pertanyaan, berapa hari setelah bukunya dibeli, baru bisa terbaca..? :D
    tokohnya banyak juga yah? jadi memungkinkan terjadi banyak konflik..ayoo bikin juga...:p tapi buat di bidang teknik sipil..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan berapa hari, tapi berapa bulan. Hahahaa.... Kalau ga ada lombanya mungkin juga masih belum dibaca.
      Hayuuukk... Bantuin ya. Soalna kan ynt udah ngerasa jauh dari dunia Teknik Sipil. Yang bikin jadi dekat lagi karena nikah sama org Teknik Sipil :D

      Hapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin