Pages

Rabu, 01 Januari 2014

Daisyflo - Yennie Hardiwidjaja

  



Saya tidak tau, mana yang lebih berat, kadar kesukaan saya pada novel ini, atau kadar ketidaksukaan saya. Satu hal yang pasti, novel ini berhasil mempermainkan emosi saya. Saya dibuat emosi bukan main karena membacanya.

  Siapa yang tidak emosi coba. Melihat seorang wanita begitu bodohnya mau menerima semua perlakuan seorang pria. Diperlakukan seperti babu, mobil si wanita diakui sebagai mobil si pria, diatur ini itu dan mau-mau saja, selalu si wanita yang mentraktir ketika mereka kencan, kemudian malah keuangan si wanita dikuasai oleh pria itu. Status mereka itu hanya PACARAN. Bukan menikah. Dan si wanita mauuuu aja digituin. Seakan pasrah, seakan tak berdaya, geram tapi tak bisa melawan.


  Saya sih sudah nebak ya, ada sesuatu yang membuat si wanita itu manut sedemikian rupa oleh si pria. Dan tebakan saya ternyata benar.



  Prolog novel ini pun menyentak rasa penasaran saya. Berkisah tentang Tara yang bersiap membunuh Tora. Detik-detik menegangkan dan paparan tentang situasi di lapangan dijelaskan secara rinci. Betapa Tara sudah merencanakan pembunuhan itu dengan sedemikian rupa. Tapi, rencana Tora malah digagalkan oleh Alex. Yang bikin saya ternganga, kenapa Alex tidak turun dan mencegah Tara melakukan pembunuhan. Tapi, justru Alex yang berubah menjadi pembunuh Tora *tepok jidat*


  Gara-gara membaca prolog yang sudah teramat sangat menegangkan ini, maka saya penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada tokoh-tokoh di dalamnya.


  Cara penulis membuka satu per satu misteri pada prolog pun ribet. Tak hanya menggunakan alur maju mundur, tapi juga alur tengah. Hahahaha... Bingung saya mengistilahkannya dengan apa. Maksudnya gini, alur ada yang bergerak maju setelah pembunuhan itu terjadi. Juga bergerak mundur ke belakang tentang hubungan Tora dan Tara yang bikin emosi jiwa. Eh, di tengah-tengah malah ada lagi awal mula, asal muasal kenapa Tora bersikap demikian kepada Tara. Ribet deh saya menjelaskannya.


  Yang bikin ribet lagi adalah penggunaan PoVnya. Oke deh, saya sudah membaca 2 novel yang menggunakan PoV orang pertama dan orang ketiga, seperti Frankfurt to Jakarta dan The Mocha Eyes. Tapi di sana, PoV berbeda itu digunakan oleh orang yang berbeda. Misal di Frankfurt to Jakarta, bagian tentang Andin diceritakan dengan PoV orang pertama, bagian tentang Riandra menggunakan PoV orang ketiga. Kalau dalam The Mocha Eyes, saat Muara bercerita memakai PoV orang pertama, bagian tentang Fariz memakai PoV orang ketiga.


  Nah, dalam Daisyflo ini, semuanya bercerita dari sudut pandang Tara. Dan beda-beda. Kadang pakai sudut pandang orang pertama, kadang sudut pandang orang ketiga. Terheran-heran deh saya di awal. Walau kemudian saya baru menyadari, kalau PoV orang pertama digunakan untuk alur maju, sementara PoV orang ketiga digunakan untuk alur mundur. Ada perbedaan font juga untuk alur maju dan mundurnya. Ribet? Emberrr... 


  Tapi, ya itulah, karena rasa penasaran, saya ingin menuntaskan ceritanya sampai akhir. Dan cukup banyak misteri yang terungkap. Tentang kenapa Tara begitu inginnya membunuh Tora, tentang Tora yang ternyata juga menanggung hukuman pada perbuatannya yang kurang ajar pada Tara. Juga tentang Muli, Junot dan Alex yang ada di lingkar kehidupan mereka.


  Waktu di tengah-tengah membaca novel ini saya juga mengambil moral of the story yaitu tentang pergaulan bebas. Hubungan belum sah yang kebablasan. Yang banyak dirugikan adalah pihak wanitanya jika hal itu terjadi. Kalau sudah segala-galanya diserahkan, apa itu menjamin si pria bakalan bertanggung jawab penuh? Kagak kan? Malah hal itu bisa dijadikan alasan buat pria memperalat wanita.


  Jangan terbuai dengan cerita indah di novel ini adanya 2 cowok yang menerima Tara apa adanya dan begitu mencintai Tara. Emang bakalan yakin kalau sudah melakukan itu bakalan ada sosok seperti Junot dan Alex? Itu hanya ada di novel kaleee... Jadi lebih baik menjaganya dunk ya. Saya ngomong gini terlepas dari twist pada novel ini kalau ternyata si Tara adalah korban. Nah lho, spoiler deh jadinya :p


  Selanjutnya, saya nggak respek deh dengan cerita di novel ini yang mengisahkan tinggal berdua dengan lawan jenis sebelum ada ikatan yang sah. Dalam agama saya, jelas hal itu haram. Berdosa untuk dilakukan.


  Membaca novel ini juga membuat saya teringat pada salah satu bahasan dalam buku Kitab Cinta dan Patah Hati karya Sinta Yudisia tentang perilaku yang disebabkan oleh multi sebab. Tak satu pun perilaku yang muncul oleh satu sebab belaka. Banyak faktor lain yang mendukung. Sama halnya dengan tokoh-tokoh yang ada dalam Daisyflo. Tora dengan kejahatannya, Tara dengan dendamnya, Muli dengan ketegaannya, Alex dengan perhatiannya, ada banyak faktor yang mendasari perilaku mereka. Dan penulis novel itu pun menguraikan sebab-sebab terjadinya perilaku si tokoh.


  So, dengan uraian saya di atas. Mana yang lebih berat? Kesukaan saya atau ketidaksukaan saya?


  Oh ya, satu lagi yang bisa memperberat kesukaan saya pada novel ini yaitu tulisan di cover depannya : Forgiveness is a gift to yourself.


  Dan terakhir, terima kasih sekali buat Ibu yang baik hati meminjamkan novel ini

8 komentar:

  1. bagi spoilernya donk... (alasannya kenapa jadi kayak gitu)..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enaknya ngobrol langsung sambil makan salome ningrat. Hahahaha... Nanti insyaAllah ynt ceritakan yaa....

      Hapus
    2. klo udah dari bakso ningrat, jangan lupa dimampirin sebungkus ya ke gn guntur :p

      kebayang ribetnya baca ini novel, hai... :D

      Hapus
    3. Ga seru, ah, dibungkusin. Ikut aja yuk nongkrong cantik di sana ;)

      Hahaha... Coba ka Fit baca, mungkin ga seribet ulun bacanya :D

      Hapus
  2. Mbak.. nge review buku-buku fantasi model-model Eragon dan temen-temennya dong.. lagi pengen beli buku2 fantasi tapi nggak tahu mana yang bagus mana yang enggak. Ditutupin plastik semuaa hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya nggak suka fantasi, Mbak :D
      Ada beberapa punya buku fantasi yang saya baca tapi ga kelar-kelar. Kalau pinjam saya balikin tapi ga selesai baca. Yang sekelas Harpot sekali pun :)

      Hapus
  3. Wuih. Mantab. Saya jadi tahu ada alur tengah Mba Yanti. Hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... itu istilah saya aja, Mas. Saya nggak tahu istilah kepenulisannya apa, alur yang kayak begitu :D

      Hapus

Tulis Komentar Anda

LinkWithin